Photo AlbumPhotosSep 10, 2007

AND MORE...
1 Photo, 2 comments

ME & MY LIFE
8 Photos, 3 comments

   View All

Blog EntryBlogJan 5, 2009
Abdul Mukhid Di hadapan dua makam, sepasang suami istri lanjut usia tapi masih cukup sehat, bahkan sangat sehat untuk ukuran orang seusia mereka, terlihat sedang berdoa. ISTRI: Sebenarnya kenapa kita sering kemari? SUAMI:  Ya untuk berdoa.... more
Previous blog entries:
Jan 5-MENUNGGU RATU ADIL ATAWA BUKAN MENUNGGU GODOT
Jan 9-PUISI-PUISI DI BATAM POS DESEMBER 2007
Nov 22-google
   View All

HomePENGANTAR DISKUSI BUKU KUMPULAN PUISI MUKHID: TULISLAH NAMAKU DENGAN ABUAug 2, 2007
Bertempat di Aula Perpustakaan Universitas Negeri Malang
Rabu, 11 Oktober 2006
Pukul: 12.45 – 14.00 WIB)

Oleh:
Nanang Suryadi
Pendiri fordisastra.com

Pergulatan dengan puisi seringkali mendorong penyair mencintai dengan keras kepala. Seringkali penyair tidak dapat melepaskan diri dari puisi, bukan karena ia ingin mendapatkan gelar atau sebutan penyair, namun yang terjadi adalah ia selalu merasa terikat dengan dunia tersebut, entah apapun alasannya. Jika pada akhirnya Mukhid menerbitkan sebuah buku kumpulan puisi, setelah sekian lama tidak pernah membukukan dalam antologi tunggal, adalah juga merupakan bagian dari proses kepenyairannya. Dengan adanya sebuah buku kumpulan puisi, sang penyair dapat berharap puisi-puisi yang lahir melalui tangannya tidak lenyap begitu saja. Puisi berhak untuk bergaul dan dikenal banyak orang di luar penyairnya sendiri. Pengalaman puitis sang penyair berhak dicatet dan mendapat tempat.

Saya mengenal Mukhid lebih dari sepuluh tahun lalu, bersama-sama terlibat dalam kegiatan seni di Kota Malang sejak masa mahasiswa di tahun 90-an, khususnya teater dan sastra. Masa-masa penuh gairah berkesenian, hingga menembus malam dengan diskusi-diskusi tentang berbagai hal, termasuk mendiskusikan puisi yang kami tulis. Beberapa sajaknya saya baca dalam kumpulan-kumpulan puisi bersama. Namun dalam pengamatan saya, dibanding aktivitas penulisan puisi Mukhid lebih intens dalam pementasan teater.

Aktivitas Mukhid dalam pementasan teater, baik sebagai aktor, sutradara serta penulis naskah terasa mempengaruhi penulisan sajak-sajaknya, sebagai buktinya adalah karya-karya dalam buku ini. Pertunjukan teater seringkali menampilkan “kejelasan” atau “keterbukaan” yang lebih dengan menggunakan bahasa verbal dan bahasa tubuh agar penonton dapat memahami apa yang disampaikan sang aktor di panggung. Keterbukaan inilah yang seringkali saya temui dalam sajak-sajak Mukhid. Penyair dalam menulis sajak-sajaknya seperti telah mempersiapkan untuk melisankan sajak-sajaknya dalam sebuah panggung pementasan, bukan sekedar tampil dalam sebuah buku. Tradisi pelisanan sebuah karya sastra menjadikan sajak-sajak yang ditulis penyair menjadi lebih cair dengan bahasa yang lugas. Terlebih lagi, jika ditelusuri dalam beberapa larik sajaknya terasa Mukhid secara sadar atau tidak meminjam gaya penyair yang sering melisankan puisinya di atas panggung, seperti Rendra dan Emha Ainun Najib.

Dalam 44 sajak yang ada dalam buku ini, saya temukan banyak sekali kata-kata tentang Tuhan, atau kata gantinya seperti Mu, Gusti, Sang Maha Suci, Nya, Engkau. Kata-kata tersebut muncul dalam berbagai suasana sajaknya, entah di saat sepi, entah di saat gaduh hiruk pikuk protes sosial. Hubungan penyair dengan Tuhannya memang seringkali merupakan sebuah pengalaman puitis yang menggelitik untuk dituliskan menjadi sebuah sajak. Jika kita baca sajak-sajak dalam khazanah perpuisian tanah air dan dunia, tema tentang hubungan penyair dengan Tuhannya sangat banyak dijumpai.

Hubungan Mukhid dengan Tuhannya, dapat terlihat dalam larik-larik sajak berikut: Tuhan, kalau Engkau memang Kenyataan Tertinggi./Kita berdamai saja mulai hari ini (Berdamai Dengan Kenyataan). “Tidak! Sebelum aku menyamai Tuhan!” (Dialog Imajiner dengan Caligula). Kugedor lagi pintu. Kuteriakkan keras-keras/ entah nama-Nya atau namaku./ Tetap tak ada jawab. Selain harap/ (Di Luar terlalu Gaduh) Dengan putus asa aku pun berbisik lembut:/ “Gusti. Bukakan pintu. Kuncinya tak kutemu/ Aku ingin istirah. Di luar terlalu gaduh./ Di luar terlalu gaduh…”/ (Di Luar Terlalu Gaduh). Tuhan, maafkan aku/114 surat yang kau kirim/ tak pernah sempat kubalas// Engkau terlalu absurd sih,/ hingga untuk memahami satu huruf saja/ dari kalimat-kalimat indahmu/ diperlukan ribuan kesabaran bumi/ dan ratusan kesetiaan matahari.// Engkau terrlalu misterius sih,/ hingga meski kudapat 99 catatan alamatmu/ yang terpatri di helaan nafasku/ jangankan mengetuk pintumu/ membaca alifmu saja aku tak mampu// Engkau terlalu lembut,/ hingga walau kutemu 6666 kunci gaibmu/ tak pernah bisa kubuka jua/ jangankan tabir Diri-Mu/ tabir diriku saja aku tak kuasa// Tuhan, maafkan aku/ 114 surat yang kau kirim/ tak pernah sempat kubalas// (Mungkin mataku yang buta/ hingga tak pandai mengeja./ Mungkin tanganku yang tak berdaya.)” (Tuhan Maafkan Aku). Tuhan, tuntunlah tanganku (Peta Nasib 2). Masihkah tersisa ruang buat Tuhan/ di sudut nuarni? (Sajak Milenium). Tak semua bisa dirumuskan/ memang./ Seperti malam ini/ ketika air mata bercucuran/ Sewaktu tiba-tiba/ kita melakukan kesalahan yang memang dikehendaki-Nya. (Tak Semua) Duh Gusti,/ hamba semakin tak mengerti (Malam di Ujung). Di dalam ruang kecemasan:/ mungkin saja Tuhan sedang tertawa/ mengolok-olok kekonyolan kita (Di Dalam Ruang Kecemasan). Kubaca namaMu/ dalam dekap sunyi kalbuku (Kubaca Dunia). Tiba-tiba aku jadi teringat/ butir-butir firman Tuhan,/ maut, kubur dan akhirat/ Aku jadi semakin tak percaya/ bahwa dunia ini betul-betul nyata// “Duh Gusti,/ tanggal apa dan hari berapa/ kita akan bertemu?” (Ini Hari Apa? Tanggal Berapa?). Tuhan,/ Kalau memang kecemasan adalah salah satu dari/ bahasa Cinta-Mu/ Beri aku satu kecemasan saja:/ harap-harap cemas kalau-kalau aku tak mampu/ memandang wajah-Mu/ di Hari Yang Dijanjikan (56 Tahun Indonesia (Masih) Cemas). Duhai Sang Pengarang/ kapan ini bermula/ dan kapan ini akan berakhir? (Tanda Tanya Agung). Tuhan, beri aku kekuatan untuk berevolusi/ sebab aku tak mau hatiku mati (Revolusi Dimulai Hari Ini). Tuhan, Biarkan kugedor bilik hatimu-Mu/ Biar lunglai kakiku ragu/ Biar gentar mataku sayu// Tuhan,/ Bukalah pintu rumah-Mu/ Biar aku bertamu/ dan menyantap semua hidangan-Mu:/ sekerat cinta, periuk nasib, saripati keyakinan, juga/ manisan keindahan segala jaman (Bukalah Bilik Hatimu). Gusti,/ Mohon kali ini engkau/ balas dengan gambling/ Tak perlu attachment/ alias lampiran/ Tolong kirimi aku: peta nasib, resume keyakinan/ dan sejumlah alamat kebahagiaan (Tuhan@Arasy.Com). Maka Tuhan pun memanggil seluruh pejabat/ negeri yang kata orang potongan sorga itu./ Sungguh pemandangan menakjubkan/ Menyaksikan berjajar-jajar orang/ menantikan keputusan Sang Maha Adil (Tuhan Tidak Menerima Sogokan)

Kata-kata lain yang juga digemari Mukhid dan kerap muncul dalam sajaknya adalah sepi, cemas, nasib serta nama-nama tokoh mitos dan tokoh nyata. Kata sepi bahkan menjadi bagian dalam judul bukan hanya dalam teks di tubuh sajaknya (misalnya judul: Catatan Sepi 1, Catatan Sepi 2, Catatan Sepi 3, Catatan Sepi 4)

Demikianlah, sekedar catatan singkat pengantar diskusi. Banyak hal yang ingin saya sampaikan tentang sajak-sajak Mukhid ini, yang mungkin bersetuju dengan para peserta diskusi kita kali ini. Sebagai penutup saya bacakan 4 Sajak Mukhid:

TULISLAH NAMAKU DENGAN ABU
Bakarlah aku dalam bilik jantungmu
hingga yang tersisa hanya abu
Lalu dengan abu itu tulislah namaku
seperti waktu kau punguti jam-jam yang meragu

Tulislah namaku dengan abu
Sebab kenangan hanyalah catatan alam yang
berdebu
Meski hidup cuma bayangan semu
Tataplah hari-hari dengan senyummu

Tulislah namaku dengan abu
Untuk sekedar memberi kemungkinan sang waktu
Melakukan tawar menawar dengan Tuhan
Karena perjalanan, betapapun berat, harus
diteruskan

Tuliskan namaku dengan abu
Berdoalah agar dari kematianku
datang kelahiran baru
Agar aku tak kehilangan kepercayaan
kepada kesejatian

Tulislah namaku dengan abu
Karena rasa berdaya tak boleh mati begitu saja
kesabaran menjadi samudra
daya hidup menjadi cakrawala

Tulislah namaku dengan abu
Sebab kita tak pernah berencana bertemu
Tulislah namaku dengan abu
Biarlah angina membawa pergi kemana ia mau

21 Maret 1998


DI LUAR TERLALU GADUH

Dengan tergopoh-gopoh kugedor pintu:
“Buka pintu! Cepat! Di luar terlalu gaduh.
Aku ingin istirah, biar hatiku teduh.”

Tak ada jawab. Hanya senyap.

Kugedor lagi pintu. Kuteriakkan keras-keras
entah nama-Nya atau namaku.
Tetap tak ada jawab. Selain harap.

Sekali lagi kugedor pintu. Tak bisa lagi nunggu.
Kali ini segala hardik dan serapah
Melumur jua dari bibirku. Senyap sesaat.
Sampai…

“Kuncinya ada padamu!”

Aku kelabakan, berputar-putar mencari kunci.
Dari segala batas yang kutahu, aku mencari.
Dari segala ujung yang kutahu, aku mencari
Tak juga kutemu.

Dengan putus asa akupun berbisik lembut:
“Gusti. Bukakan pintu. Kuncinya tak kutemu.
Aku ingin istirah. Di luar terlalu gaduh.
Di luar terlalu gaduh…”

18 Desember 1998


SAJAK SEPOTONG MANGGA

Pernahkah engkau bertanya:
Kenapa mangga rela
Menjadi mangga

24 Desember 1999


KUTUKLAH AKU UNTUK MENCINTAIMU

Kutuklah aku untuk mencintaiMu,
karena mataku telah buta oleh pesona dunia
karena telingaku telah terpikat oleh merdu sarwa
Suara
karena tanganku telah kotor oleh noda
karena mulutku telah berlumur pura-pura
karena aku selalu kalah oleh nafsu yang bertahta

Kutuklah aku untuk mencintaiMu
Karena aku telah terperangkap asmara nan maya
Karena jauh di lubuk kalbuku
Masih kurindu wajahMu
Walau dengan perih hati dan rasa amat tak berdaya

Kutuklah aku untuk mencintaiMu
sebab aku tak mampu lepas dari berhala diri
sebab aku tak sanggup menghindar dari nafsu
duniawi
sebab aku terkurung dalam labirin kepalsuan nan
memabukkan
sebab aku terperangkap dalam jerat-jerat keakuan
Kutuklah aku untuk mencintaiMu

Jauhkan segala yang akan menjauhkan aku dariMu
Singkirkan segala yang menyilaukan aku dari
memandangMu
halau segala yang menambatkan hatiku tidak
padaMu
kutuklah aku menjadi pecinta sejatiMu

VideoVideoJan 5, 2009
ThumbnailIni film indie semi dokumenter karya saya...silakan kalau mau downloa
Previous videos:
Jan 5-PUISI PALESTINA.MPG
   View All

MusicMusicJan 7, 2008

Previous playlists:
Sep 29-Musik asyik
Aug 27-INCOGNITO
Aug 12-Musik Langka
   View All


NoteGuestbook
   
amoeck wrote on Apr 15, '09
waalaikum salam...wah ktm maneh Sri..yg ini jarang tak kunjungi
sreysomething wrote on Apr 15, '09
Halo Mas!!!

Assalamualaikum....
haryobagushandoko wrote on Feb 26, '09
bundarayya wrote on Jan 7, '09
aku akan tetap nulis sampai gak bisa nulis lagi ;)
putrifadhil wrote on Jan 5, '09
makasih kunjunganya
salam kenal bapak :)
bundarayya wrote on Jan 1, '09

mas, piye kabare?
haryobagushandoko wrote on Dec 20, '08
Haryo Bagus Handoko's Facebook profile

yashartaholic wrote on Dec 19, '08
Eh, iyo, emang sampeyan duluan, hehehe...

Makasih bukunya, emang dahsyat!!! Kalo kangen kumpul-kumpul di UM, ta' baca lagi. Maklum, ga bisa sering-sering mudik.
amoeck wrote on Dec 19, '08
ga ini iseng aja...sambil nyimpen file biar tidak kehilangan jejak seperti sejarah Indonesia he2...malah aq sudah masuk lebih dulu.
yashartaholic wrote on Dec 18, '08
Halo, Pakde! Seneng deh dikau ikut menceburkan diri di ruwetnya dunia MP. Diracuni mas Aji juga?
tokotutorial wrote on Oct 26, '08
http://bisnisinternet-ptc.blogspot.com/2008/10/cara-menghasilkan-uang-lebih-dari-3.html

CUMAN KLIK IKLAN DAPET BAYARAN

pertama - tama ini bukan web yg ngejual mimpi...
yg bisa ngebuat anda mendapatkan mobil,rumah,or else...
ini adalah web yang akan memberi anda uang jajan (user 2-3bulan)
tapi untuk user(>3bulan) tidak menutup kemungkinan ini akan menjadi passive income anda
hanya dengan 10menit/hari anda akan mendapatkan uang rokok...
yhaaa mayan kan...just 10minutes

anda dapat daftar melalui web ini
http://klikrupiah.com/register.php?r=djms





cara kerja web ini adalah...
PASTIKAN WEBBROWSER anda MOZILLA FIREFOX
1. Setelah anda mendaftar...lakukan login ID anda
2. Setelah Login...klik menu "Klik Iklan"
3. Kemudian anda akan melihat iklan2 yang ada dalam kolom "Iklan Anggota Umum" dan "Iklan Klikrupiah"
4. Klik iklan tersebut (1 per 1...jangan langsung semua...eror )
5. Akan muncul tab baru
6. Tunggu halaman selesai men-load
7. Akan muncul timer dikiri atas yang dimulai dari 30
8. Tunggu hingga angka menyentuh 0
9. Akan muncul tanda ceklist
10. Close tab
11. Lanjutkan dengan iklan2 yang lain hingga habis semua
12. Saldo dapat dicek d menu "Statistik"
13. Penarikan Saldo dapat dilakukan setelah anda mendapatkan 50.000 Rp yang akan ditransfer ke rekening yang telah anda isi waktu pendaftaran
14. web yang telah diklik akan dapat diklik kembali setelah 24jam

pendapatannya 100/klik kecil?
yha itu memang kecil...di atas ak udah bilang
ini bukan web yang bisa buat anda mendapatkan mobil,dll
tapi tidak menutup kemungkinan kalau ditekuni
akan menjadi passive income untuk anda yang lumayan

Semoga Sukses

Bukti Kalo emang Kita Bener2 Dibayar Bisa Di lIhat Di sini

http://komunitasklik.com/index.php/topic,1226.0.html

Yang ini juga boleh


amoeck wrote on Oct 14, '08
halo mohon maaf lahir batin semuanya
wawanekoyulianto wrote on Oct 14, '08
halo cak, piye-piye? piye kabare?
princessadhit wrote on Oct 8, '08
Pak Mukhid...
Nice to know you!!!
sidiknugroho wrote on Oct 5, '08
apa kabar cak mukhid? selamat lebaran. mohon maaf lahir-batin.
klipingfpkm wrote on Aug 25, '08
Sinopsis buku tanaman hias terbaru – “Pachypodium”, terbitan Gramedia Pustaka Utama

Judul buku: Pachypodium - Panduan Lengkap Merawat dan Membudidayakan Pachypodium Anda agar Tumbuh Prima
Jumlah halaman: 126 halaman
Pengarang: Haryo Bagus Handoko
*) Penulis adalah juga pengurus komunitas penulis Forum Penulis Kota Malang (http://www.fpkm.org)
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, Agustus 2008

Bisa dibeli di toko-toko buku terdekat di kota Anda.
Available in http://www.gramedia.com & http://togamas.co.id

Pachypodium Tanaman Purba yang Langka nan Eksotis

Tanaman hias Pachypodium sebenarnya pernah populer di Indonesia sekitar era tahun 1990-an. Namun entah mengapa baru pada awal tahun 2007 minat terhadap tanaman ini kembali marak. Padahal di luar negeri, sudah lebih dari seratus tahun, para peneliti maupun para hobiis dan kolektor tanaman langka memburu dan mengkoleksi tanaman yang terancam punah ini. Pachypodium yang konon dipercaya sudah hidup sejak jutaan tahun lalu sebelum era jaman kapur, merupakan tanaman yang secara fleksibel terus berevolusi dan menyesuaikan diri terhadap habitat di mana ia tumbuh. Sisa tanaman purba yang tetap bisa bertahan hidup dan lestari hingga sekarang ini telah menarik minat para peneliti maupun para kolektor tanaman langka sejak akhir abad ke-18. Spesies-spesies baru Pachypodium terus bermunculan, karena evolusi yang terjadi pada tanaman ini terus melahirkan spesies-spesies maupun hibrida-hibrida baru, tidak hanya di habitat aslinya di Madagaskar, namun juga di berbagai belahan benua di mana tanaman ini dapat tumbuh dan berevolusi. Konon masih ratusan spesies tanaman Pachypodium yang belum teridentifikasi maupun terklasifikasi, sementara baru sekitar 25 spesies saja yang dikenal secara luas di dunia. Di Indonesia, yang baru mengenal tanaman ini sejak era tahun 1990-an, spesies-spesies yang dibudidayakan masih terbatas (sekitar kurang lebih 15 species yang beredar/dijumpai di Indonesia) karena kesesuaian syarat tumbuh maupun terhambat masalah proteksi yang diberlakukan di negara asalnya, yaitu Madagaskar, maupun negara-negara lain di Afrika Selatan. Walau demikian beberapa spesies tanaman Pachypodium telah menarik perhatian para pecinta tanaman hias di Indonesia karena bentuk bonggolnya yang ditumbuhi duri serta bentuk daun maupun bunganya yang cantik.
Buku yang sederhana ini mencoba mengupas berbagai hal di balik budidaya dan perawatan tanaman Pachypodium. Kehadiran buku ini diharapkan dapat menambah wawasan maupun mengobati rasa penasaran para pecinta Pachypodium untuk mengenal lebih jauh jenis-jenis yang ada dan belajar lebih banyak mengenai bagaimana cara budidaya dan perawatannya.
Pachypodium merupakan tanaman asli (tanaman endemik) di Pulau Madagaskar maupun Afrika bagian selatan seperti Angola, Botswana, Mozambique, Namibia, Afrika Selatan, Swaziland, dan Zimbabwe. Walau banyak orang menganggap bahwa Pachypodium serupa dengan tanaman kaktus, dan bahkan ada pula yang menganggapnya tergolong tanaman hias palem. Beberapa orang Eropa bahkan menjuluki tanaman yang satu ini dengan sebutan Madagascar palm atau palem dari Madagaskar. Tentu saja hal ini salah kaprah. Sesungguhnya tanaman hias Pachypodium masih terhitung kerabat dekat tanaman Adenium. Hal ini karena Family Apocynaceae memiliki tiga genera (genus) yang dapat digolongkan sebagai tanaman sukulen, yaitu Adenium, Pachypodium dan Plumeria (pohon Kamboja). Maka sungguh tak mengherankan bahwa penampakan morfologis Pachypodium ini mirip sekali dengan Adenium, mulai dari batang, daun, maupun bunganya, walau secara fisiologis serta dalam beberapa hal, Pachypodium memiliki sifat khusus yang membedakannya dengan tanaman Adenium.
Di masa lalu, klasifikasi tanaman Pachypodium sempat menjadi bahan perdebatan dalam genus mana ia harus digolongkan. Beberapa ahli ada yang menggolongkan tanaman purba ini dalam genus Echites sementara yang lain beranggapan bahwa tanaman ini sebaiknya diklasifikasikan dalam genus yang berbeda atau pun genus yang baru. Akhirnya pada tahun 1830, atas inisiatif Leandley, tanaman ini disepakati untuk digolongkan sebagai genus yang unik terpisah dari genus Echites, yaitu genus Pachypodium. Perdebatan masih terus berlanjut seputar spesies-spesies unik Pachypodium yang ditemukan di belahan selatan benua Afrika. Pada tahun 1892, Baker menemukan bahwa spesies-spesies unik sebetulnya lebih banyak ditemukan di sisa pecahan benua kuno, yaitu di Pulau Madagaskar dan akhirnya penelitian mengenai tanaman Pachypodium mulai terfokus pada spesies-spesies yang ada di Pulau Madagaskar sehingga penelitian mengenai Pachypodium mulai terfokus pada spesies-spesies yang ada di Pulau Madagaskar hingga pada sekitar tahun 1907, Constantin dan Bois – dua orang peneliti tanaman mulai membuat monograf pertama (peta lokasi habitat dan persebaran spesies-spesies Pachypodium lengkap dengan klasifikasinya) yang saat itu sudah ditemukan sekitar 17 spesies Pachypodium, dimana 10 spesies berasal dari Madagaskar sementara 7 lainnya dari berbagai lokasi yang ada di benua Afrika. Monograf ini mirip dengan monograf yang pernah dibuat oleh Alexander von Humboldt, seorang ahli biologi yang pernah membuat monograf berbagai jenis flora dan fauna yang ada di Pulau Galapagos, seperti yang pernah dilakukan pula oleh Charles Darwin untuk berbagai spesies flora dan fauna yang ada di Pulau Galapagos. Bahkan Pulau Madagaskar dipercaya lebih mempunyai keanekaragaman flora dan fauna dibanding Pulau Galapagos yang sama-sama merupakan sisa-sisa peninggalan atau pecahan benua kuno.
Tanaman Pachypodium hadir dengan pesona yang mengagumkan, seakan merangkum pesona keindahan bunga dan batang Adenium sekaligus pesona duri unik dari Euphorbia sebagai tanaman hias berduri. Walau sosok tanaman Pachypodium tampak cantik, namun tanaman ini hanya bisa difungsikan sebagai tanaman hias dan tidak bisa dimakan, karena seluruh bagian tanaman, terutama getahnya sangat beracun. Getahnya yang beracun bisa menimbulkan iritasi pada kulit bila terkena tangan, dan bahkan bisa menyebabkan kebutaan bila getah tersebut sampai terkena mata. Getah Pachypodium yang beracun, di Afrika bahkan bisa dimanfaatkan untuk membalur ujung mata panah atau mata tombak untuk keperluan berburu. Durinya juga cukup beracun dan dapat menyebabkan iritasi pada kulit bila tangan kita sampai tertusuk oleh duri tersebut. Nama Pachypodium sendiri berasal bahasa latin yang berarti si kaki gemuk (pachy = gemuk , podium = kaki). Semua tanaman Pachypodium merupakan jenis tanaman sukulen yang batangnya berbonggol gemuk (pachycaule) serta memiliki duri hampir di sekujur bagian tubuhnya. Kedua ciri utama ini merupakan adaptasi Pachypodium terhadap lingkungan habitat aslinya di Afrika yang beriklim gurun (arida) yang kering, serta bersuhu ekstrim di mana perbedaan suhu antara siang dan malam sangat fluktuatif. Di Afrika dan Madagaskar, tempat tanaman ini berasal, Pachypodium biasa tumbuh di bebatuan yang ada di lereng-lereng pegunungan kapur, atau tebing-tebing cadas berbatuan granit yang curam, karang terjal, dan bukit atau tebing berbatuan kuarsa (quartzite). Kemampuan adaptasi secara fleksibel inilah yang membuat spesies-spesies Pachypodium mampu bertahan hidup dan terus lestari hingga sekarang sejak jutaan tahun yang lalu (diduga sudah ada sejak akhir jaman Triasik – antara 160 juta hingga 230 juta tahun yang lalu). Walau begitu, anehnya hingga saat ini belum ditemukan satu pun fosil spesies tanaman Pachypodium, padahal Pachypodium diduga sudah ada sejak daratan Afrika dan Pulau Madagaskar bersatu dalam sebuah benua kuno yang bernama Gondwana di akhir jaman Triasik. Gondwana adalah sebuah benua kuno berukuran raksasa di mana saat itu benua Afrika, Pulau Madagaskar, India, benua Amerika bagian selatan, benua Australia, New Zealand, dan Antartika masih bersatu dalam satu daratan. Pada saat itu Pulau Madagaskar bersambungan langsung dengan bagian selatan daratan benua Afrika yang sekarang, dan juga daratan India yang sekarang merupakan semenanjung India (Peninsular India). Setelah benua kuno – Gondwana, tersebut pecah (yang terjadi pada akhir jaman Cretaceous / jaman kapur – 90 hingga 88 juta tahun yang lalu), akibat pergerakan lempeng tektonik bumi, Pulau Madagaskar yang saat itu masih bersatu dengan daratan India serta benua-benua lain seperti Afrika, Amerika, Australia, dan Antartika memisah. Selama berjuta tahun, Pulau Madagaskar dan daratan India kuno bersatu dalam benua kecil (pulau besar) yang terisolir. Hingga akhirnya pada sekitar 88 juta tahun yang lalu, Madagaskar dan India yang tadinya bersatu dalam satu daratan kemudian memisah. Daratan India kemudian bersatu dengan benua Asia hingga sekarang. Itulah sebabnya tanaman Pachypodium masih terus lestari yang bertahan hidup hingga sekarang dan paling banyak dijumpai tumbuh di Pulau Madagaskar. Tanaman ini telah melewati berbagai tahap adaptasi dan evolusi selama jutaan tahun hingga tetap hidup lestari hingga sekarang. Walau banyak orang mengemukakan bahwa Pachypodium adalah tanaman endemik Afrika dan Pulau Madagaskar, namun beberapa spesies baru maupun spesies yang belum dikenal, banyak bertebaran di India, Amerika dan Australia. Hal ini tidak mengherankan, karena jutaan tahun yang lalu, Afrika, Madagaskar, India, Amerika dan Australia adalah tergabung dalam satu daratan atau benua kuno yang bernama Gondwana. Di Afrika dan Madagaskar sendiri hingga saat ini, masih ratusan jenis Pachypodium liar yang masih belum dikenal dan juga belum teridentifikasi atau pun diklasifikasi. Jadi penyebaran tanaman Pachypodium mungkin sudah terjadi sejak jutaan tahun yang lalu. Itulah sebabnya, spesies-spesies Pachypodium tidak hanya dijumpai di daratan Afrika dan Pulau Madagaskar saja, namun juga dijumpai di gurun-gurun pasir yang ada di India, Amerika dan Australia. Bukan hanya spesies-spesies tanaman saja yang mirip antara yang ada di Madagaskar dan di India, spesies-spesies hewan yang ada di Madagaskar, beberapa jenis juga bisa dijumpai di India.
Di masa sekarang, dalam perkembangan selanjutnya, tanaman Pachypodium kemudian menyebar dari Afrika ke seluruh penjuru dunia, termasuk Eropa, dan Asia. Di Eropa yang beriklim subtropis, umumnya tanaman ini dibudidayakan dalam rumah kaca dengan pengaturan mikroklimat dan juga media tanam yang diatur semirip mungkin dengan habitat aslinya di Afrika. Pachypodium berasal dari kerabat atau Famili Apocynaceae atau di beberapa negara barat biasa dikenal dengan kerabat tanaman Periwinkle (Catharantus roseus). Beberapa tanaman yang berasal dari famili Apocynaceae dan cukup dikenal antara lain adalah Periwinkle (Catharantus roseus), Adenium (Adenium sp) atau biasa disebut mawar gurun / desert rose, kamboja (Plumeria sp) dan Oleander (Oleander sp). Pachypodium banyak tumbuh dan dijumpai di Benua Afrika dan Pulau Madagaskar. Di daratan Afrika terdapat 4 spesies utama Pachypodium yang berasal dari daratan benua Afrika yaitu Pachypodium succulentum, Pachypodium bispinosum, Pachypodium namaquanum dan Pachypodium lealii. Juga terdapat pula sebuah subspesies yang dikenal dengan Pachypodium lealii Saundersii. Semuanya tumbuh dengan baik di bagian selatan benua Afrika, khususnya di Afrika Selatan. Sedangkan jenis-jenis Pachypodium yang lain (sekitar 20 spesies) merupakan tanaman asli Pulau Madagaskar, sebuah pulau kecil yang berdekatan dengan benua Afrika. Tanaman ini sering disamakan dengan tanaman kaktus, walau tanaman ini termasuk tanaman sukulen. Memang tanaman kaktus termasuk tanaman sukulen, tetapi tidak semua tanaman sukulen adalah tanaman kaktus. Tanaman ini semakin digalakkan budidayanya di habitat aslinya di Madagaskar mengingat semakin berkurangnya hutan di pulau tersebut dalam beberapa ratus tahun terakhir, yang mengakibatkan spesies Pachypodium ini termasuk dalam kategori tanaman langka yang dilindungi karena hampir punah. Penelitian terhadap tanaman Pachypodium sudah berjalan sejak lebih dari seratus tahun lalu, di mana pemerintah Madagaskar telah bekerja sama dengan begitu banyak instansi dan lembaga penelitian baik di dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri. Tanaman Pachypodium sendiri bahkan juga digolongkan sebagai salah satu tanaman langka dunia dan terdaftar dalam appendiks 1 indeks CITES (The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yaitu daftar tanaman langka dunia yang dilindungi.
Di Asia, termasuk Indonesia yang beriklim tropis, tanaman ini mulai dikenal di awal tahun 90-an dan terus dikembangkan hingga saat ini. Beberapa hobiis tidak hanya mengimpor biji-biji Pachypodium dari Afrika Selatan melalui Thailand, namun ada pula yang mengimpor komoditi ini dalam bentuk jadi. Tujuannya tak lain adalah untuk membudidayakan dan mengintroduksi tanaman ini untuk lebih dikembangkan di tanah air. Baru pada sekitar awal tahun 2007 mulai banyak para hobiis dan nurseri-nurseri di Indonesia yang mengimpor biji, maupun tanaman dewasa Pachypodium berbagai spesies dari Afrika, Thailand, Jerman, Perancis, Australia dan bahkan dari Amerika, karena tanaman ini kembali digemari para pecinta tanaman hias. Dalam buku terbaru yang membahas tentang tanaman Pachypodium ini, akan banyak dijumpai berbagai informasi terbaru mengenai bagaimana teknik budidaya yang baik, trik merangsang tanaman Pachypodium agar tumbuh menjadi tanaman yang kristata maupun varigata, serta trik bagaimana menstimulasi agar tanaman Pachypodium cepat berbunga. Teknik-teknik rahasia ini belum pernah dibahas sebelumnya dalam buku-buku yang lain. Hanya buku Pachypodium terbitan Gramedia Pustaka Utama inilah yang menyajikan berbagai informasi terlengkap dan terakurat yang bisa Anda dapatkan. Buku ini bisa diperoleh di toko-toko buku terdekat, terutama di toko buku Gramedia dan juga toko buku TogaMas.
klipingfpkm wrote on Aug 25, '08
Sinopsis buku tanaman hias terbaru – “Pachypodium”, terbitan Gramedia Pustaka Utama

Judul buku: Pachypodium - Panduan Lengkap Merawat dan Membudidayakan Pachypodium Anda agar Tumbuh Prima
Jumlah halaman: 126 halaman
Pengarang: Haryo Bagus Handoko
*) Penulis adalah juga pengurus komunitas penulis Forum Penulis Kota Malang (http://www.fpkm.org)
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, Agustus 2008

Bisa dibeli di toko-toko buku terdekat di kota Anda.
Available in http://www.gramedia.com & http://togamas.co.id

Pachypodium Tanaman Purba yang Langka nan Eksotis

Tanaman hias Pachypodium sebenarnya pernah populer di Indonesia sekitar era tahun 1990-an. Namun entah mengapa baru pada awal tahun 2007 minat terhadap tanaman ini kembali marak. Padahal di luar negeri, sudah lebih dari seratus tahun, para peneliti maupun para hobiis dan kolektor tanaman langka memburu dan mengkoleksi tanaman yang terancam punah ini. Pachypodium yang konon dipercaya sudah hidup sejak jutaan tahun lalu sebelum era jaman kapur, merupakan tanaman yang secara fleksibel terus berevolusi dan menyesuaikan diri terhadap habitat di mana ia tumbuh. Sisa tanaman purba yang tetap bisa bertahan hidup dan lestari hingga sekarang ini telah menarik minat para peneliti maupun para kolektor tanaman langka sejak akhir abad ke-18. Spesies-spesies baru Pachypodium terus bermunculan, karena evolusi yang terjadi pada tanaman ini terus melahirkan spesies-spesies maupun hibrida-hibrida baru, tidak hanya di habitat aslinya di Madagaskar, namun juga di berbagai belahan benua di mana tanaman ini dapat tumbuh dan berevolusi. Konon masih ratusan spesies tanaman Pachypodium yang belum teridentifikasi maupun terklasifikasi, sementara baru sekitar 25 spesies saja yang dikenal secara luas di dunia. Di Indonesia, yang baru mengenal tanaman ini sejak era tahun 1990-an, spesies-spesies yang dibudidayakan masih terbatas (sekitar kurang lebih 15 species yang beredar/dijumpai di Indonesia) karena kesesuaian syarat tumbuh maupun terhambat masalah proteksi yang diberlakukan di negara asalnya, yaitu Madagaskar, maupun negara-negara lain di Afrika Selatan. Walau demikian beberapa spesies tanaman Pachypodium telah menarik perhatian para pecinta tanaman hias di Indonesia karena bentuk bonggolnya yang ditumbuhi duri serta bentuk daun maupun bunganya yang cantik.
Buku yang sederhana ini mencoba mengupas berbagai hal di balik budidaya dan perawatan tanaman Pachypodium. Kehadiran buku ini diharapkan dapat menambah wawasan maupun mengobati rasa penasaran para pecinta Pachypodium untuk mengenal lebih jauh jenis-jenis yang ada dan belajar lebih banyak mengenai bagaimana cara budidaya dan perawatannya.
Pachypodium merupakan tanaman asli (tanaman endemik) di Pulau Madagaskar maupun Afrika bagian selatan seperti Angola, Botswana, Mozambique, Namibia, Afrika Selatan, Swaziland, dan Zimbabwe. Walau banyak orang menganggap bahwa Pachypodium serupa dengan tanaman kaktus, dan bahkan ada pula yang menganggapnya tergolong tanaman hias palem. Beberapa orang Eropa bahkan menjuluki tanaman yang satu ini dengan sebutan Madagascar palm atau palem dari Madagaskar. Tentu saja hal ini salah kaprah. Sesungguhnya tanaman hias Pachypodium masih terhitung kerabat dekat tanaman Adenium. Hal ini karena Family Apocynaceae memiliki tiga genera (genus) yang dapat digolongkan sebagai tanaman sukulen, yaitu Adenium, Pachypodium dan Plumeria (pohon Kamboja). Maka sungguh tak mengherankan bahwa penampakan morfologis Pachypodium ini mirip sekali dengan Adenium, mulai dari batang, daun, maupun bunganya, walau secara fisiologis serta dalam beberapa hal, Pachypodium memiliki sifat khusus yang membedakannya dengan tanaman Adenium.
Di masa lalu, klasifikasi tanaman Pachypodium sempat menjadi bahan perdebatan dalam genus mana ia harus digolongkan. Beberapa ahli ada yang menggolongkan tanaman purba ini dalam genus Echites sementara yang lain beranggapan bahwa tanaman ini sebaiknya diklasifikasikan dalam genus yang berbeda atau pun genus yang baru. Akhirnya pada tahun 1830, atas inisiatif Leandley, tanaman ini disepakati untuk digolongkan sebagai genus yang unik terpisah dari genus Echites, yaitu genus Pachypodium. Perdebatan masih terus berlanjut seputar spesies-spesies unik Pachypodium yang ditemukan di belahan selatan benua Afrika. Pada tahun 1892, Baker menemukan bahwa spesies-spesies unik sebetulnya lebih banyak ditemukan di sisa pecahan benua kuno, yaitu di Pulau Madagaskar dan akhirnya penelitian mengenai tanaman Pachypodium mulai terfokus pada spesies-spesies yang ada di Pulau Madagaskar sehingga penelitian mengenai Pachypodium mulai terfokus pada spesies-spesies yang ada di Pulau Madagaskar hingga pada sekitar tahun 1907, Constantin dan Bois – dua orang peneliti tanaman mulai membuat monograf pertama (peta lokasi habitat dan persebaran spesies-spesies Pachypodium lengkap dengan klasifikasinya) yang saat itu sudah ditemukan sekitar 17 spesies Pachypodium, dimana 10 spesies berasal dari Madagaskar sementara 7 lainnya dari berbagai lokasi yang ada di benua Afrika. Monograf ini mirip dengan monograf yang pernah dibuat oleh Alexander von Humboldt, seorang ahli biologi yang pernah membuat monograf berbagai jenis flora dan fauna yang ada di Pulau Galapagos, seperti yang pernah dilakukan pula oleh Charles Darwin untuk berbagai spesies flora dan fauna yang ada di Pulau Galapagos. Bahkan Pulau Madagaskar dipercaya lebih mempunyai keanekaragaman flora dan fauna dibanding Pulau Galapagos yang sama-sama merupakan sisa-sisa peninggalan atau pecahan benua kuno.
Tanaman Pachypodium hadir dengan pesona yang mengagumkan, seakan merangkum pesona keindahan bunga dan batang Adenium sekaligus pesona duri unik dari Euphorbia sebagai tanaman hias berduri. Walau sosok tanaman Pachypodium tampak cantik, namun tanaman ini hanya bisa difungsikan sebagai tanaman hias dan tidak bisa dimakan, karena seluruh bagian tanaman, terutama getahnya sangat beracun. Getahnya yang beracun bisa menimbulkan iritasi pada kulit bila terkena tangan, dan bahkan bisa menyebabkan kebutaan bila getah tersebut sampai terkena mata. Getah Pachypodium yang beracun, di Afrika bahkan bisa dimanfaatkan untuk membalur ujung mata panah atau mata tombak untuk keperluan berburu. Durinya juga cukup beracun dan dapat menyebabkan iritasi pada kulit bila tangan kita sampai tertusuk oleh duri tersebut. Nama Pachypodium sendiri berasal bahasa latin yang berarti si kaki gemuk (pachy = gemuk , podium = kaki). Semua tanaman Pachypodium merupakan jenis tanaman sukulen yang batangnya berbonggol gemuk (pachycaule) serta memiliki duri hampir di sekujur bagian tubuhnya. Kedua ciri utama ini merupakan adaptasi Pachypodium terhadap lingkungan habitat aslinya di Afrika yang beriklim gurun (arida) yang kering, serta bersuhu ekstrim di mana perbedaan suhu antara siang dan malam sangat fluktuatif. Di Afrika dan Madagaskar, tempat tanaman ini berasal, Pachypodium biasa tumbuh di bebatuan yang ada di lereng-lereng pegunungan kapur, atau tebing-tebing cadas berbatuan granit yang curam, karang terjal, dan bukit atau tebing berbatuan kuarsa (quartzite). Kemampuan adaptasi secara fleksibel inilah yang membuat spesies-spesies Pachypodium mampu bertahan hidup dan terus lestari hingga sekarang sejak jutaan tahun yang lalu (diduga sudah ada sejak akhir jaman Triasik – antara 160 juta hingga 230 juta tahun yang lalu). Walau begitu, anehnya hingga saat ini belum ditemukan satu pun fosil spesies tanaman Pachypodium, padahal Pachypodium diduga sudah ada sejak daratan Afrika dan Pulau Madagaskar bersatu dalam sebuah benua kuno yang bernama Gondwana di akhir jaman Triasik. Gondwana adalah sebuah benua kuno berukuran raksasa di mana saat itu benua Afrika, Pulau Madagaskar, India, benua Amerika bagian selatan, benua Australia, New Zealand, dan Antartika masih bersatu dalam satu daratan. Pada saat itu Pulau Madagaskar bersambungan langsung dengan bagian selatan daratan benua Afrika yang sekarang, dan juga daratan India yang sekarang merupakan semenanjung India (Peninsular India). Setelah benua kuno – Gondwana, tersebut pecah (yang terjadi pada akhir jaman Cretaceous / jaman kapur – 90 hingga 88 juta tahun yang lalu), akibat pergerakan lempeng tektonik bumi, Pulau Madagaskar yang saat itu masih bersatu dengan daratan India serta benua-benua lain seperti Afrika, Amerika, Australia, dan Antartika memisah. Selama berjuta tahun, Pulau Madagaskar dan daratan India kuno bersatu dalam benua kecil (pulau besar) yang terisolir. Hingga akhirnya pada sekitar 88 juta tahun yang lalu, Madagaskar dan India yang tadinya bersatu dalam satu daratan kemudian memisah. Daratan India kemudian bersatu dengan benua Asia hingga sekarang. Itulah sebabnya tanaman Pachypodium masih terus lestari yang bertahan hidup hingga sekarang dan paling banyak dijumpai tumbuh di Pulau Madagaskar. Tanaman ini telah melewati berbagai tahap adaptasi dan evolusi selama jutaan tahun hingga tetap hidup lestari hingga sekarang. Walau banyak orang mengemukakan bahwa Pachypodium adalah tanaman endemik Afrika dan Pulau Madagaskar, namun beberapa spesies baru maupun spesies yang belum dikenal, banyak bertebaran di India, Amerika dan Australia. Hal ini tidak mengherankan, karena jutaan tahun yang lalu, Afrika, Madagaskar, India, Amerika dan Australia adalah tergabung dalam satu daratan atau benua kuno yang bernama Gondwana. Di Afrika dan Madagaskar sendiri hingga saat ini, masih ratusan jenis Pachypodium liar yang masih belum dikenal dan juga belum teridentifikasi atau pun diklasifikasi. Jadi penyebaran tanaman Pachypodium mungkin sudah terjadi sejak jutaan tahun yang lalu. Itulah sebabnya, spesies-spesies Pachypodium tidak hanya dijumpai di daratan Afrika dan Pulau Madagaskar saja, namun juga dijumpai di gurun-gurun pasir yang ada di India, Amerika dan Australia. Bukan hanya spesies-spesies tanaman saja yang mirip antara yang ada di Madagaskar dan di India, spesies-spesies hewan yang ada di Madagaskar, beberapa jenis juga bisa dijumpai di India.
Di masa sekarang, dalam perkembangan selanjutnya, tanaman Pachypodium kemudian menyebar dari Afrika ke seluruh penjuru dunia, termasuk Eropa, dan Asia. Di Eropa yang beriklim subtropis, umumnya tanaman ini dibudidayakan dalam rumah kaca dengan pengaturan mikroklimat dan juga media tanam yang diatur semirip mungkin dengan habitat aslinya di Afrika. Pachypodium berasal dari kerabat atau Famili Apocynaceae atau di beberapa negara barat biasa dikenal dengan kerabat tanaman Periwinkle (Catharantus roseus). Beberapa tanaman yang berasal dari famili Apocynaceae dan cukup dikenal antara lain adalah Periwinkle (Catharantus roseus), Adenium (Adenium sp) atau biasa disebut mawar gurun / desert rose, kamboja (Plumeria sp) dan Oleander (Oleander sp). Pachypodium banyak tumbuh dan dijumpai di Benua Afrika dan Pulau Madagaskar. Di daratan Afrika terdapat 4 spesies utama Pachypodium yang berasal dari daratan benua Afrika yaitu Pachypodium succulentum, Pachypodium bispinosum, Pachypodium namaquanum dan Pachypodium lealii. Juga terdapat pula sebuah subspesies yang dikenal dengan Pachypodium lealii Saundersii. Semuanya tumbuh dengan baik di bagian selatan benua Afrika, khususnya di Afrika Selatan. Sedangkan jenis-jenis Pachypodium yang lain (sekitar 20 spesies) merupakan tanaman asli Pulau Madagaskar, sebuah pulau kecil yang berdekatan dengan benua Afrika. Tanaman ini sering disamakan dengan tanaman kaktus, walau tanaman ini termasuk tanaman sukulen. Memang tanaman kaktus termasuk tanaman sukulen, tetapi tidak semua tanaman sukulen adalah tanaman kaktus. Tanaman ini semakin digalakkan budidayanya di habitat aslinya di Madagaskar mengingat semakin berkurangnya hutan di pulau tersebut dalam beberapa ratus tahun terakhir, yang mengakibatkan spesies Pachypodium ini termasuk dalam kategori tanaman langka yang dilindungi karena hampir punah. Penelitian terhadap tanaman Pachypodium sudah berjalan sejak lebih dari seratus tahun lalu, di mana pemerintah Madagaskar telah bekerja sama dengan begitu banyak instansi dan lembaga penelitian baik di dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri. Tanaman Pachypodium sendiri bahkan juga digolongkan sebagai salah satu tanaman langka dunia dan terdaftar dalam appendiks 1 indeks CITES (The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yaitu daftar tanaman langka dunia yang dilindungi.
Di Asia, termasuk Indonesia yang beriklim tropis, tanaman ini mulai dikenal di awal tahun 90-an dan terus dikembangkan hingga saat ini. Beberapa hobiis tidak hanya mengimpor biji-biji Pachypodium dari Afrika Selatan melalui Thailand, namun ada pula yang mengimpor komoditi ini dalam bentuk jadi. Tujuannya tak lain adalah untuk membudidayakan dan mengintroduksi tanaman ini untuk lebih dikembangkan di tanah air. Baru pada sekitar awal tahun 2007 mulai banyak para hobiis dan nurseri-nurseri di Indonesia yang mengimpor biji, maupun tanaman dewasa Pachypodium berbagai spesies dari Afrika, Thailand, Jerman, Perancis, Australia dan bahkan dari Amerika, karena tanaman ini kembali digemari para pecinta tanaman hias. Dalam buku terbaru yang membahas tentang tanaman Pachypodium ini, akan banyak dijumpai berbagai informasi terbaru mengenai bagaimana teknik budidaya yang baik, trik merangsang tanaman Pachypodium agar tumbuh menjadi tanaman yang kristata maupun varigata, serta trik bagaimana menstimulasi agar tanaman Pachypodium cepat berbunga. Teknik-teknik rahasia ini belum pernah dibahas sebelumnya dalam buku-buku yang lain. Hanya buku Pachypodium terbitan Gramedia Pustaka Utama inilah yang menyajikan berbagai informasi terlengkap dan terakurat yang bisa Anda dapatkan. Buku ini bisa diperoleh di toko-toko buku terdekat, terutama di toko buku Gramedia dan juga toko buku TogaMas.
danoedan wrote on May 7, '08
Numpang lewat mas (sekalian kalo bisa numpang beken), sapa tau saya bisa mlagiat puisinya mas, kekekekekkeke...bcanda mas...

Salam
lennashops wrote on Apr 30, '08
hai hai.. main main ke tokoku ya,

ada clothing clothing keren dan tas cw yang lucu lucu.

ini yahoo ku.
lennajohan

or you can E-mail me on
lennajohan@yahoo.com





Happy Shopping...

http://lennashops.multiply.com

fitrahanugrah wrote on Feb 20, '08
ulang tahun cak......sukses
© 2010 Multiply   About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Translate · API · Contact · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.