Abdul's posts with tag: alexander

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog EntryREINKARNASI (CALON BAKAL NOVEL YANG BELUM JADI)Aug 14, '07 9:54 AM
for everyone

 

 

 

 

REINKARNASI

Sebuah Novel

Karya Abdul Mukhid

 

 

 

 

 

 

 

 

2006-2007

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROLOG

 

323 SM

 

            Angin gurun bertiup. Burung-burung berhenti berkicau. Gunung-gunung dan pepohonan tertunduk. Mereka tahu, Iskandar Dzul Qornain tengah meradang ajal. Pasukannya mengumpul, tapi dia malah meminta mereka membubarkan diri dan memanggil panglima kesayangannya.           

            “Mendekatlah kemari Balya.”

            Balya bin Malkan mendekat, masih dengan baju zirah melekat.

            “Aku tahu kamu akan segera menanggalkan baju zirah itu,” Iskandar berbicara dengan pandangan menerawang. Sementara mata Balya kelihatan berkaca-kaca.

            “Aku tahu kau sudah menemukan apa yang kita berdua telah cari selama ini. Air Keabadian," kata Iskandar setengah berbisik.

            Balya tetap terdiam.

            “Rupanya aku salah jalan Balya. Aku telah terbujuk oleh pangkat, harta dan kejayaan. Ternyata semua ini semu. Sampaikanlah ini pada orang-orang di masa mendatang. Karena aku tahu, kamu bakal hidup abadi sampai akhir jaman."

            Balya melepaskan baju zirah. Dikenakannya jubah putih dan selempang warna hijau. Iskandar tersenyum menyaksikannya.

            “Kenapa kau bergantian pakaian Balya?”

            “Inilah pakaian yang akan sering kukenakan di masa depan. Aku harap engkau akan mengenaliku kelak.”

            Senyum Iskandar makin lebar.

            “Terima kasih Balya. Aku tahu hanya akan ada beberapa orang pilihan yang bisa hidup abadi sepertimu. Tapi tetap saja aku mesti menebus kesalahanku. Maka sebelum aku mati, dengarkanlah sumpahku: Aku akan terus menitis untuk menebus kesalahanku. Aku akan terus berjuang mencari air keabadian agar aku bisa berjumpa dengan Yang Maha Agung. Aku akan terus berjuang melanjutkan misi hidupku!”

            Kata-kata Iskandar menggelegar. Disambut desir angin kencang yang menerpa tenda-tenda prajurit.

            “Ambilkan pedangku, Balya!’

            Balya menggambil pedang pendek nan megah milik Iskandar lalu menyerahkannya.          

            “Dan akan kuwariskan pedang ini pada siapa saja yang menjadi titisanku. Jagalah mereka Balya. Ingatkan mereka jika berbuat kesalahan.”

            Iskandar menghembuskan napasnya yang terakhir. Bersamaan dengan itu pedang di tangannya menghilang. Begitu pula dengan Balya bin Malkan. Yang tersisa hanya jeritan burung nazar dan tangis haru para prajurit.

 

 

 

                       

 

 

 

 

 

 


WHO AM I?

 

Tahun 2020 M (1441H)

 

            “Aaarrggh...!"

            Tiba-tiba Alex terjaga dari tidurnya. Dia baru saja mengalami mimpi buruk. Ini yang ketiga kalinya dalam seminggu ini. Dan ketiga mimpi itu semuanya sama. Alex memandangi jam di dinding. Sekarang Jam 3 pagi. Alex mencoba mengingat-ingat kembali mimpinya.

 

Dia menunggang seekor kuda kecil tapi gesit dan kuat. Dia merasa seperti berada di kancah peperangan. Pedang pendek di tangan kanannya berkali-kali berhasil merobohkan musuh. Sorak sorai kemenangan. Lalu tiba-tiba dia merasa berada di dalam kemah berbicara dengan seseorang berjubah putih berselempang hijau. Kemudian dia merasa kesakitan dan...terbangunlah dia dari tidurnya.

 

            Alex segera menyambar laptop selulernya1). Dia mencoba mencari-cari gambar kuda yang ada di mimpinya di google2) selama sekitar 15 menit tanpa tak menemukan petunjuk yang mengarah kesana. Setelah itu dia bangkit menuju kamar mandi. Kamar-kamar lain masih tertutup rapat. Para penghuni rumah yang lain pasti masih terlelap. Alex mengambil air wudhu lalu kembali ke kamar untuk sholat malam. Setelah sholat beberapa rakaat, Alex melanjutkan wirid sampai setengah tertidur. Antara sadar dan tidak Alex seperti melihat sesuatu yang bercahaya di depannya. Benda itu tak begitu jelas tapi Alex yakin itu pedang. Yah, itu pedang pendek yang dibawanya berperang dalam mimpi. Alex membelalakkan mata untuk memperjelas penglihatannya. Tapi pedang itu...hilang!

1) Perangkat masa depan yang merupakan gabungan antara komputer dan handphone. Perangkat ini sebesar komunikator jaman sekarang, ada yang tanpa monitor ada yang tanpa keyboard. Memanfaatkan pantulan infra merah dan atau citra hologram.

2) Search engine atau mesin pencari paling terkenal di dunia maya.

 

*******

 

            "Nah, sekarang kita akan membahas negeri Makedonia. Kalian pasti mengenal salah satu tokoh penting sejarah dalam Makedonia. Siapakah dia?”

            Ardi mengangkat tangan.

            “Ya, Ardi!”

            “Alexander Agung, Pak!”

            “Tepat sekali Ardi.”

            Pintu kelas di lantai tiga itu tiba-tiba terbuka. Ternyata Yuli baru masuk. Dia langsung mendekati Pak Sulaiman, dosen pengajar matakuliah Sejarah Eropa.

            “Maaf Pak, saya terlambat.”

            “Ini tinggal 30 menit lagi, Yuli. Darimana saja kamu?”

            “Eh...ketiduran Pak."

            “Huu...huu....,” terdengar suara cemooh dari seisi kelas.

            “Ya, sudah. Jangan diulangi lagi ya.”

            Yuli mengambil tempat duduk di belakang. Yuli berusaha mengikuti penjelasan Pak Sulaiman tentang sejarah Makedonia, tapi di kepalanya masih terngiang-ngiang mimpinya semalam. Mimpi tentang seorang laki-laki berkuda sambil membawa pedang pendek.

            “Nah, sekarang coba kalian lihat dari gambar ini,” kata Pak Sulaiman sambil menyalakan laptop selulernya lalu diproyeksikan ke tembok.

            “Inilah gambar murid kesayangan Aristoteles, Alexander Agung!”

            Mata Yuli terbelalak. Dengan refleks dia mengangkat tangan.

            “Iya. Ada apa Yuli?”

            “Eh...apakah Alexander mempunyai pedang pendek Pak?”

            “Iya. Betul Yuli. Alexander mempunyai sebilah pedang pendek yang legendaris. Kendati mungkin tak selegandaris pedang excalibur milir Raja Arthur.”

            Yuli menyela lagi,” Apakah Bapak punya gambarnya?”

            “Sayangnya, konon pedang Alexander hilang. Jadi sesudah beliau meninggal, tidak ada yang tahu keberadaan pedangnya. Tapi jangan khawatir. Ada sejumlah replika yang dibuat. Ini ada beberapa gambar dari museum dan kolektor.”

            Pak Sulaiman mencari-cari gambar pedang Alexander di folder laptop selulernya, lalu menampilkannya di layar. Yuli tersentak ketika melihat gambar-gambar replika pedang itu. Gambar-gambar itu sangat mirip dengan yang dia lihat dalam mimpinya!

            “Tapi ada satu mitos," Pak Sulaiman melanjutkan.

            Mendadak kelas seperti tersihir. Semua menunggu perkataan Pak Sulaiman selanjutnya.

            “Kata orang, pedang itu diwariskan kepada para penerus atau titisan Alexander. Bahkan orang-orang Skandinavia meyakini bahwa sebagian dari mereka adalah titisan Alexander, dan bahwa mereka ini hidup abadi. Mereka ini dijuluki sebagai Highlander.

            Semua masih terpaku. Tidak ada suara. Pak Sulaiman membenahi kacamatanya, tersenyum. Alarm laptop seluler Pak Sulaiman berbunyi, menandakan waktu mengajarnya di kampus ini sudah selesai dan dia mesti pergi keluar kota mengikuti Temu Masyarakat Arkeologi dan Sejarah.

            “Nah, anak-anak untuk hari ini sementara cukup. Selamat siang!”

            Seisi kelas segera berhamburan keluar. Pak Sulaiman masih membenahi peralatannya. Selesai membenahi peralatan, Pak Sulaiman dikagetkan oleh keberadaan Yuli yang masih ada di dalam kelas.

            “Lho, kamu masih di kelas Yuli? Ada apa?”

            “Saya mau tanya sesuatu kepada Bapak. Saya nunggu Bapak selesai membenahi peralatan dulu.”

            “Mau tanya apa? Silahkan!”

            “Begini Pak. Guru agama saya pernah menceritakan tentang Iskandar Zul Qornaian yang perjalanan hidupnya mirip dengan Alexander. Menurut apakah kedua orang ini sama?”

            Pak Sulaiman mengernyitkan dahi, lalu mengusap keringat dengan tisu.

            “Eh..itu pertanyaan yang sukar dijawab. Sampai saat ini masih terjadi kontroversi di kalangan umat Islam. Saya sendiri bukan ulama, jadi saya tidak berani menjawab. Cobalah baca tafsir-tafsir surat Kahfi atau tanyakanlah pada ulama.”

            Yuli mengangguk-angguk.

            “Terima kasih, Pak.”

            “Sama-sama.”

            Yuli pun beranjak keluar kelas. Tapi sesampainya di pintu di menoleh.

            “Satu lagi Pak.”

            “Ya?’

            “Apakah Bapak percaya kalau Highlander itu ada?”

            Senyap sesaat. Pak Sulaiman menghela napas panjang.

            “Saya percaya!”

 

********

            Kantin ramai sekali. Alex mencari tempat di sudut yang kosong. Sudut kegemarannya dan sahabat-sahabatnya. Alex sudah menunggu pesanannya selama lima belas menit, tapi belum muncul juga. Dalam hati, dia menyumpahi. Sempat terbersit di benaknya, kenapa di sini tidak memakai robot saja seperti di Jepang. Kan ini abad ke-21! Tapi dia bantah sendiri pemikiran itu. Kalau pelayanannya dengan robot, pasti banyak mahasiswa yang ngemplang. Belum lagi, mereka yang cerdik mengakali mesin. Bisa-bisa robot itu diakali juga. Maka bangkrutlah kantin itu!

            “Roti bakar isi coklat sama kopi, Mas!”

            Tiba-tiba seorang pelayan manis menyuguhkan pesanannya.

            “I..iya, Mbak,” jawab Alex gelagapan seperti tesentak dari pikirannya yang melayang kesana-kemari.

            Alex menuangkan kopi ke atas lepek. Angin menerpa rambutnya yang sebahu panjangnya. Sebungkus rokok dikeluarkan dari sakunya. Alex menyalakan sebatang lalu menghisapnya. Untung di sini tidak ada larangan merokok, pikir Alex. Sejurus kemudian pandangannya menerawang. Dia teringat mimpinya yang berulang sampai tiga kali minggu ini. Dia berusaha mengingat detil pedang pendek yang dibawanya. Dia ingat ditengahnya ada ukiran, tapi dia tidak bisa melihat ukiran apa itu. Alex berusaha keras mengingat, tapi....

            “Wah sastrawan kita kayaknya lagi mencari ilham nih!”

            Alex menoleh. Ternyata disampingnya sudah berdiri Yuli sahabatnya yang mahasiswi filsafat. Alex hanya tersenyum. Yuli segera meraih tempat duduk dan duduk di depan Alex sembari mengibaskan rambut panjangnya. Belum jenak Yuli duduk, Alex sudah memberondongnya dengan pertanyaan.

            “Yuli, kamu dapat matakuliah sejarah kan?”

            “Ya, tentu saja. Orang belajar filsafat kan harus mengenal sejarah.”

            “Kamu dapat materi sejarah Eropa?”

            “Ya..iyalah!”

            “Kalau begitu kamu ngerti benda-benda peninggalan sejarah Eropa?”

            “Sebentar, sebentar. Kamu kerasukan setan darimana ini? Kok tiba-tiba nerocos seperti itu?”

            Alex tidak memperdulikan pertanyaan Yuli, dia malah balik bertanya.

            “Apa kamu pernah tahu soal pedang?”

            Kali ini Yuli sedikit tersentak. Tapi belum hilang kekagetannya. Tiba-tiba muncul Norman.

            “Apa? Kamu tadi bilang pedang ya? Ya aku pasti tidak salah dengar. Nah, terimalah ini.”

            Norman merogoh sesuatu dari saku rompinya, lalu meletakkannya diatas meja.

            “Excalibur. Pedang legendaris Raja Arthur!”

            Ternyata yang disodorkan Norman adalah kaset DVD King Arthur.

            “Huh dasar maniak film!” semprot Yuli.

            Alex hanya menyungging senyuman sambil menghipas rokoknya yang tinggal beberapa kali hisapan lagi.

            “Eh, tunggu dulu!” kata Norman.”Ini bukan sembarang film. Ini produksi terbaru kerjasama antara Universal Studio dan Miramax. Ini untuk pertama kalinya dalam sejarah kedua perusahaan ini bekerjasama. Konon dulu Miramax pernah membuat film serupa pada tahun 2005 atau 2006, tapi hasilnya tidak memuaskan.”

            Alex menyambar kaset di atas meja itu dan mengamati gambarnya. Bertepatan dengan itu pelayanan menyodorkan minuman.

            “Es jeruk buat mbak Yuli. Dan...capucino buat Mas Norman.”

            Makasih Mbak,” kata Yuli.

            Yuli dan Norman membasahi tenggorokannya.

            “Tapi tidak seperti ini,” kata Alex tiba-tiba.

            “Apanya?” sergah Norman sambil membetulkan kacamatanya.

            “Pedangnya!”

            “Dari dulu pedang excalibur ya seperti ini!”

            Alex menghisap rokoknya yang terakhir kali, lalu mematikannya di asbak.

            “Bukan, maksudku pedang dalam mimpiku. Pedang dalam mimpiku itu pendek dan agak melengkung. Terus..."

            “Di bagian tengahnya ada ukiran?” sela Yuli.

            “I-ya..”

            “Coba buka lapselmu! Punyaku low batterei.”

            Alex kebingungan, tapi diturutinya juga permintaan Yuli. Sementara Norman hanya bengong dan mengelus-elus rambutnya yang tidak panjang.

            “Bagus. Tunggu sebentar.”

            Alex dan Norman belum mengerti kemauan Yuli. Mereka hanya bengong dan penasaran. Sementara tanpa mereka sadari sebagian besar pengunjung kantin sudah pergi. Selain mereka bertiga, hanya ada sepasang kekasih yang ada di sudut yang lain. Yuli sibuk browsing pedang Alexander di internet, lalu menemukan yang mirip dengan yang dicontohkan pak Sulaiman.

            “Nah, ini dia! Ini kan gambarnya?” Yuli menyodorkan gambar di laptop seluler kepada Alex.

            “Ya. Persis sekali. Bagaimana kamu bisa tahu?”

            “Aku dapat dari kuliah.”

            “Bukan. Maksudku bagaimana kamu tahu kalau itu pedang yang ada dalam mimpiku?”

            Yuli menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya kuat-kuat.

            “Aku tidak tahu. Aku juga melihatnya dalam mimpiku.”

            Alex dan Yuli bersitatap. Seolah saling bertanya ada apa di balik rahasia mimpi mereka. Sedangkan Norman hanya terbengong-bengong menyaksikan kedua sahabatnya.

*******

            “Menurut orang Jawa, mimpi itu dibagi menjadi tiga, yaitu titi yoni, gondo yoni dan puspo tajem. Titi yoni adalah mimpi yang orang biasa menyebutnya sebagai “bunga tidur”. Mimpi ini adalah semacam hiburan bagi kita. Ini adalah cara mata beristirahat atau dalam ilmu kedokteran disebut sebagai REM (Rapid Eye Movement), gerakan mata dalam kecepatan tertentu yang menghasilkan gambar. Yang kedua, gondo yoni adalah mimpi yang secara ilmiah dikatakan sebagai mimpi psikis alias mimpi bawah sadar. Artinya, mimpi ini berisi harapan dan atau keinginan yang terpendam dalam alam bawah sadar kita. Nah, jenis mimpi ketiga, puspo tajem, adalah mimpi yang dalam agama disebut sebagai “mimpi yang benar”. Itulah mimpinya Ibrahim ketika menyembelih putranya, atau mimpi Yusuf ketika melihat sebelas bintang, bulan dan matahari bersujud kepadanya. Mimpi ini biasanya terjadi pada sepertiga malam yang terakhir. Ulama yang terkenal untuk urusan mimpi ini adalah Abu Sirin.”

            Alex, Yuli, dan Norman mengangguk-angguk lalu saling melempar pandangan setelah mendengar penjelasan ustad Mukhlis, guru rohani Alex.

            “Lantas bagaimana dengan tafsir mimpi saya Ustad?” tanya Alex.

            Ustad Mukhlis menyelempangkan kain di atas baju takwanya. Senyum simpul menyembul dari bibirnya.

            Tidak ada yang lebih tahu tafsir mimpi seseorang selain dirinya sendiri. Itu saja yang bisa saya katakan. Sekarang ijinkan saya mohon diri dulu. Saya mau masuk ke langgar dulu. Para santri sudah menunggu. Kalau kalian masih ingin di sini silahkan. Tapi kalau mau pergi juga tidak apa-apa.”

            “Kami permisi saja, Ustadz. Terima kasih banyak.”

            Ketiga sahabat itu berdiri.

            “O ya, tunggu sebentar. Alex, apakah kamu pernah bertanya tentang siapa dirimu?”

            “Ya. Sering, Ustadz.”

            “Nah, sekarang saatnya kamu mulai menemukan jawabannya."

            Alex terdiam sejenak. Ketiga orang itu mematung. Ustadz Mukhlis berdiri sambil membenahi kopiahnya.

            “Assalamualaikum," kata Ustadz Mukhlis yang kemudian masuk ke langgar.

            “Waalaikum salam,” jawab ketiganya yang masih terpaku di tempat berdirinya. Sementara dari dalam terdengar riuh anak-anak belajar membaca Al Qur’an.

            Semuanya saling berhubungan. Tidak ada yang namanya kebetulan,” kata Yuli tiba-tiba.

            “Apa kamu bilang?” sergah Alex.

            Semuanya saling berhubungan. Tidak ada yang namanya kebetulan!”

            “Dapat darimana kamu?”

            “Pasti dari dosen filsafatnya!” kata Norman setengah meledek.

            “Bukan. Tapi dari seorang laki-laki dalam mimpiku.”

            “Mimpi? Seperti apa orang itu?” Alex jadi penasaran.

            “Berjubah putih dan berselempang hijau.”

            Semuanya saling berhubungan. Tidak ada yang namanya kebetulan. Kata-kata Yuli terngiang terus di benak Alex selama perjalanan pulang naik sky car3) milik Norman, melintasi kota demi kota dan keramaian di bawahnya. Norman adalah pemilik sky car kedelapan di Indonesia. Maklum paman Norman adalah salah satu konglomerat papan atas di Indonesia.

 

3) Mobil terbang, prototipe sudah dibuat di A.S. sekarang

 

.

 

 

 

******

            Tidak ada yang lebih tahu tafsir mimpi seseorang selain dirinya sendiri. Semuanya saling berhubungan. Tidak ada yang namanya kebetulan. Kalimat yang diucapkan oleh guru rohani dan sahabatnya itu masih terngiang-ngiang di benak Alex bahkan sesudah dia sampai di rumah senja itu.

            “Sudah pulang, Alex?” sapa ibunya sembari menyiapkan hidangan makan malam.

            “Iya, Bu.”

            Ibunya berjalan ke ruang makan menata hidangan di meja makan.

            “Ibu.”

            “Iya.”

            “Boleh aku tanya sesuatu?”

            Ibu Alex mengernyitkan dahi bertanya-tanya. Tidak biasanya anaknya bersikap begitu. Tapi dianggukkannya juga kepalanya.

            “Siapakah yang memberi aku nama ibu?"

            “Nenekmu. Memangnya kenapa?”

            “Kenapa aku diberinama Alex Subagyo.”

            Ibu Alex tersenyum tipis.

            “Kata nenekmu sih. Dia dulu ngefan sama bintang film yang namanya Alex Komang. Dan Subagyo artinya orang yang berbahagia."

            Alex manggut-manggut.

            “Ada apa Alex?”

            “Eh...Tidak ada apa-apa, Bu. Alex mandi dulu ya, Bu.”

            Alex segera menaruh laptop selulernya di kamar lalu pergi ke kamar mandi. Alex memilih mandi pakai gayung, meski ada shower. Dia merasakan sesuatu yang lain ketika menggayungkan air ke tubuhnya. Kesegaran yang tak biasa di kota Malang yang sudah tak dingin lagi akibat pemanasan global. Tiba-tiba dia mendengar seperti bisikan: Air Keabadian...air keabadian. Alex berhenti menggayungkan air. Dia mencoba mencari sumber suara itu tapi suara itu sudah hilang. Ah, itu hanya imajinasiku, pikir Alex.

 

 

PENCARIAN

            Hall di Lantai Satu Hotel Raffless ramai sekali. Sekitar lima puluh orang menghadiri acara lelang yang diadakan oleh Rumah Lelang Christie.

            Now, we come to the main event today (Sekarang sampailah kita pada puncak acara lelang hari ini),” kata pembawa acara, “the auction of a sword acclaimed to be the one owned by Alexander the Great! (lelang pedang yang dinyatakan sebagai milik Alexander Agung).”

            Konon pedang yang dikatakan sebagai milik Alexander itu ditemukan oleh seorang arkeolog Mesir yang sedang melakukan penelitian di sebuah desa di Skotlandia. Sejumlah sejarawan juga meyakini bahwa itu pedang Alexander. Namun tidak sedikit pula arkeolog maupun sejarawan yang meragukan kebenarannya. Terakhir pedang itu dimiliki oleh seorang kolektor dari Inggris. Lelang pun berlangsung dengan pembukaan 200 dolar A.S.

            Five hundred dollars!" teriak seorang jutawan Brunai.

            “Seven hundred dollars!” timpal seorang konglomerat Finlandia, yang konon salah satu pemilik saham Nokia Corporation.

            A thousand!” kata taipan minyak dari Kuwait.

            Suasana lelang makin memanas. AC gedung tak terasa dingin sama sekali. Tawaran demi tawaran meluncur. Sampai yang tersisa hanya dua orang penawar.

            “1750!” kata milyarder Italia.

            “1800!” kata konglomerat Indonesia

            “1900!”

            “1950!”

            “2500!”

            Semua terdiam. Milyarder Italia itu pun tak mau mengajukan tawaran lagi. Maka pedang Alexander itu menjadi milik Jonathan Adiguna Sastrawidjaya, salah satu dari dua puluh orang terkaya di Asia. Selesai acara lelang, seorang pengusaha Singapura yang kenal baik dengan Jonathan datang mendekat.

            “Maaf Pak Jonathan, Anda yakin kalau itu pedang yang asli?”

            Jonathan mengelus-elus kumis tebalnya. Setengah ragu dia pun menjawab.

            “Iya... Dan seandainya bukan, ini tetap sangat berharga bagi saya."

            Pengusaha Singapura itu mengusap botak kepalanya dengan sapu tangan.

            “Kenapa?”

            “Maaf, Mister Lee. Saya punya alasan yang sangat pribadi, dan tidak dapat saya sampaikan kepada Anda.”

 

******

            Yuli mengayuh sepeda batereinya cepat-cepat menuju sebuah perpustakaan masjid di Malang bagian selatan. Dia sering mendengar di perpustakaan itu koleksi kitab dan tafsir Al Qur'annya lumayan lengkap. Sekalian dia mau mampir ke rumah bibinya. Asyik juga naik sepeda baterei. Jika dia capek dia bisa menyalakan mesin bertenaga baterei. Di jalanan banyak juga yang mengendarai sepeda seperti milik Yu’i. Hmm...kebijakan pemerintah menanggulangi polusi mulai kelihatan hasilnya, pikir Yuli. Menurut Ayah Yuli, sejak sekitar tujuh tahun yang lalu pemerintah melarang pemakaian sepeda motor dan membatasi kepemilikan mobil setiap rumah tangga (kecuali sky car yang pemiliknya di Indonesia bisa dihitung dengan jari). Kebijakan ini agaknya juga membuka lapangan kerja baru. Di sepanjang jalan banyak orang membuka tempat pengisian baterei. Yuli tersenyum, lamat-lamat dia bisa mengingat waktu dia berusia 5 atau enam tahun, di sebelah rumahnya ada orang buka counter penjualan voucher HP. Alangkah merepotkan, pikir Yuli. Sekarang orang tak perlu beli pulsa. Pulsa sekarang sudah menjadi alat pembayaran itu sendiri. Orang cukup bertransaksi pakai Lapsel dan semua bakal beres.

            “Tut...tut”

            Alarm lapsel Yuli berbunyi. GPS menunjukkan kalau bibinya ada di rumah. Syukurlah. Yuli menepi. Dia ingin mengabari bibinya dulu. Ah, rupanya bibinya sedang memasak. Yuli bisa melihat dari kamera yang dinyalakannya.

            “Sore Bi!”

            “Hai, Yuli!”

            “Lagi masak apa Bi?”

            “Wah kebetulan Bibi masak masakan favoritmu. Kamu nggak kesini?”

            “Ini aku sedang perjalanan menuju kesana Bi. Paling lima belas menit lagi sampai.”

            “Wah, bagus kalau begitu. Tak tunggu ya!”

            “Ya. Da da Bibi.”

            Klik. Yuli menutup sambungan.

            Yuli memeriksa cadangan isi batereinya. Ah, cukup untuk bisa sampai ke rumah Bibi, pikirnya. Yuli hendak menyalakan tombol otomatis sepedanya ketika tiba-tiba di hadapannya muncul seorang laki-laki tua berpakaian lusuh. Yuli penasaran. Di tengoknya kanan kiri dan tidak ada kendaraan yang berhenti. Lantas darimana orang  ini?

            “Nak, saya ini seorang pengembara. Sudilah kiranya Ananda memberi uang saya sepuluh ribu rupiah saja. Nanti saya tukar dengan bungkusan ini.”

            Mau minta kok maksa sih, pikir Yuli. Dan lagi bungkusan apa yang mau ditukar itu. Jangan-jangan ganja atau bom. Seolah bisa membaca pikiran Yuli orang tua itu berkata, “Ini pusaka peninggalan kakek buyut saya Nak.”

            Yuli kaget campur penasaran. Sebagai mahasiswa sejarah dia sangat ingin melihat benda itu.

            “Boleh saya lihat Mbah?”

            Lelaki tua itu menyerahkan bungkusan pada Yuli.Yuli membukanya. Matanya terbelalak. Sebuah pedang yang mirip sekali dengan uraian Pak Sulaiman dosen Sejarah Eropa.

            “Betul Mbah mau menukar dengan uang sepuluh ribu?”

            Lelaki tua itu mengangguk.

            “Mbah tidak menyesal?”

            “Saya sekedar menjalankan amanat leluhur saya untuk menyerahkan kepada seseorang. Dan lagi saya sudah tidak punya uang sama sekali.”

            Yuli merogoh sakunya. Sial! Ternyata dia cuma membawa uang sepuluh ribu. Sebagian besar uangnya sudah ditabung dan disimpan dalam bentuk pulsa. Tidak mungkin dia mengisi baterei dengan pulsa. Yuli menghitung kemungkinan pulangnya nanti pinjam uang bibinya dulu untuk ngisi baterei.

            “Ini Mbah,” kata Yuli sambil menyodorkan uangnya.

            “Terima kasih. Cuma satu pesanku, kelak tolong berikan pada orang yang menurut kamu berhak memilikinya.”

            Yuli manggut-manggut, lalu mengamati pedang pendek itu dengan penuh ketakjuban. Pelan-pelan dimasukkan ke dalam tasnya. Dia ingin bertanya pada Kakek itu. Tapi ternyata Kakek yang di hadapannya tadi sudah lenyap! Yuli mencoba mengingat-ingat wajah orang tua itu. Dia yakin wajahnya mirip sekali dengan yang ditemuinya dalam mimpi. Bedanya, di mimpi berjubah dan bersorban hijau.

 

********

            Norman menyalakan sky car dengan agak kesal. Dia baru saja datang, tiba-tiba pamannya meminta menjemputnya di bandara Juanda. Mobil terbang itu pun terbang ke bagian selatan kota Surabaya. Tapi ketika Norman hampir sampai di bandara, sms masuk ke dalam lapselnya memberitahukan kalau sebaiknya dijemput di Terminal Purabaya saja, soalnya keadaan sangat berbahaya. Pamannya juga berpesan agar menggunakan stealth setting biar tidak terlalu menarik perhatian. Ah, aneh sekali paman Jonathan, tidak biasanya dia begini, pikir Norman. Norman sekarang berpikir kalau-kalau pamannya memang dalam keadaan bahaya. Belum sempat Norman berpikir panjang, tiba-tiba...

            “Tar! Tar!”

            Norman kaget bukan main. Mobilnya ditembaki sebuah pesawat jet kecil. Untung mobil itu dilengkapi kaca anti peluru. Norman memacu mobilnya di udara. Dia segera menyalakan stealth sebagaimana disarankan pamannya. Dengan menu ini mobilnya tidak akan bisa tertangkap oleh mata telanjang maupun GPS, kecuali kalau GPSnya sudah mampu menembus tingkat keamanan paling mutakhir. Kali ini dia benar kalau pamannya dalam bahaya. Ah, apa yang dilakukan pamannya kali ini? Apa ada hubungannya dengan barang antik?

            Beberapa detik kemudian Norman sudah sampai di terminal. Norman menelpon pamannya lewat telpon mobil agar lebih aman.

            “Paman, aku sudah di terminal.”

            “Dimana kamu?”

            “Di pintu luar.”

            “Aku matikan stealthnya dulu biar tidak membuat orang curiga. Paman di tempat taksi kan? Jangan kemana-mana, aku segera kesana.”

            Norman mengganti bagian luar mobilnya dengan citra warna putih dan dikesankan seperti taksi biasa. Beberapa saat kemudian dia sudah sampai di tempat mangkal taksi dimana pamannya sudah menunggu.

            “Paman Jonathan, sini Paman,” kata Norman memanggil pamannya yang kelihatan cemas sekali.

            Jonathan segera masuk ke mobil dengan terengah-engah.

            “Paman dari mana sih?”

            “Singapura.”

            “Emangnya ada apa kok aku tadi sampai ditembaki?”

            “Nanti saja penjelasannya. Sekarang ayo kita pergi.”

            “Kemana?”

            “Bukit Lapindo.”

*****

            “Alex, ibu pergi arisan dulu, ya!”

            “Iya, Bu,” jawab Alex yang sedang berganti pakaian.

            Sekarang Alex ingin bersantai sejenak sehabis mandi. Alex menuju ruang tamu. Kakinya diselonjorkan di sofa lalu meraih koran sore. Alex senyum-senyum sendiri. Dia merasa geli dengan ramalan para ahli pada akhir abad ke-20 kalau dia abad dua satu tidak bakal ada koran kertas. Buktinya dia masih menenteng dan membaca koran dari kertas. Alex membuka-buka koran itu sekilas. Dia buka dulu halaman belakang yang berisi berita olahraga. Kemudian baru ke bagian tengah. Sekonyong-konyong ada sebuah berita yang membuat Alex penasaran: Lelang di Singapura dan seorang konglomerat Indonesia berhasil memenangkan lelang untuk sebuah pedang kecil yang diklaim sebagai pedang Alexander Agung! Bukan hanya itu, ternyata pembelinya adalah Jonathan Adiguna, paman sahabatnya, Norman. Sejurus kemudian, Alex berusaha menghubungi lapsel Norman. Ternyata lapsel Norman tidak bisa dihubungi. Sial, masak masih ada daerah yang tidak ada sinyal sih. Dia coba lacak lewat GPS tapi tetap tak terdeteksi. Dahi Alex mengernyit. Napas dihembuskan kuat-kuat. Dicobanya lagi GPSnya tapi tidak berhasil juga. Alex hanya manggut-manggut. Tangannya menopang dagu mirip patung Rodin. Matanya menerawang.

            Teet...tet....tet

            Alex sedikit tersentak. Tangannya yang menopang dagu secara refleks terlepas. Alarm di lapselnya berbunyi, menunjukkan kalau ada video call masuk.

            "Hai, Alex. Lagi ngapain?”

            Ternyata itu Yuli. Alex tidak menjawab pertanyaan Yuli. Melihat latar yang tidak biasa, dia malah balik bertanya.

            “Lho kamu dimana ini?”

            “Di rumah bibi. Ini aku lagi bantu beliau masak. Eh, Alex kamu harus ke sini. Aku mau ajak kamu ke perpustakaan masjid.”

            “Apa? Perpustakaan masjid? Untuk apa?”

            “Katanya di sini tafsir Al Qur’annya lengkap. Aku mau cari informasi lebih jauh soal Iskandar Dzul Qornain."

            “Wah sebegitu seriusnya, Kamu.”

            “Ini dahaga pengetahuan yang harus dipenuhi. Dan tampaknya kali ini lebih serius. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu kali ini. Makanya kamu harus kesini.”

            “Oke, oke aku langsung ke sana. Mungkin baru setengah jam nyampai. Aku naik busway saja."

            “Oke, kita langsung ketemu di perpustakaan. Bye.”

            Sambungan telepon dimatikan. Alex menyambar tas dan pergi ke tempat pemberhentian busway. Dalam perjalanan terngiang-ngiang kembali kata-kata Yuli: “Semuanya saling berhubungan. Tidak ada yang namanya kebetulan!” .

 

*****

 

            Dengan mobil terbangnya, Norman mengitari lembah Bukit Lapindo. Bukit ini dinamai Bukit Lapindo karena dulunya adalah sebuah kota kecil tempat penambangan minyak gas PT Lapindo. Norman masih ingat lamat-lamat, sewaktu dia kelas satu sekolah dasar orang masih ramai membicarakan  bencana “lumpur panas”. Selebihnya dia tidak tahu banyak. Yang dia tahu tahun 2013 bencana itu baru benar-benar diatasi. Sekarang justru banyak orang yang datang ke sana untuk rekreasi atau studi tour.

            “Paman, bagaimana sih lumpur panas dulu akhirnya bisa benar-benar berhenti?” tanya Norman tidak bisa menahan rasa penasarannya.

            “Karena keajaiban,” jawab pamannya mantap.

            “Keajaiban??”

            “Ya...keajaiban. Seperti juga kejaiban tenggelamnya benua antlantis yang hilang.”

            “Maksud Paman?”

            “Sudahlah nanti paman jelaskan. Sekarang belok kanan dan begitu kamu lihat lorong masuk aja."

            Norman segera memutar sky car ke kanan lalu masuk lorong mirip gua. Norman sampai perlu menyalakan lampu saking gelapnya. Aneh, di bawah sini ada gua? Tanya Norman berulang-ulang dalam benaknya. Belum habis keterkejutan Norman, dia dikejutkan dengan sebuah pintu besi depannya.

            “Stop!” kata pamannya.

            Ya tentu saja Norman harus berhenti karena memang tidak ada jalan lain. Paman Norman, Jonathan, turun lalu membuka pintu besi itu dengan deteksi telapak tangannya. Tangannya ditempelkan ke semacam monitor yang ada di mesin ATM. Tak berapa lama kemudian pintu membuka lebar. Sembari membenahi rambutnya yang sedikit acak-acakan, Jonathan masuk kembali ke mobil. Salah satu mobil paling mewah di Indonesia itu segera meluncur masuk. Betapa terkejutnya Norman ketika menyaksikan di dalam lampu terang sekali. Ada pipa menjulur kanan kiri. Dan Norman yakin betul di kanan kirinya bukan tembok batu melainkan besi atau logam sejenisnya. Norman jadi penasaran sekali.

            “Paman, sebenarnya tempat macam apa ini?”

            “Ssst, nanti kamu akan tahu sendiri,” kata Pamannya lirih setengah berbisik.

            Norman terpaksa menahan rasa ingin tahunya sampai akhirnya mereka sampai di sebuah pintu gerbang yang terbuat dari kaca tebal.

            “Kita masuk kesitu Paman?”

            “Tidak. Kita parkir dulu mobilnya.”

            “Parkir? Memang di sini ada tempat parkir?”

            “Tenang saja.”